digital preservation
tantangan menjaga sejarah manusia saat semua data disimpan dalam cloud
Pernahkah kita menyadari sebuah ironi kecil saat sedang mengambil foto dengan ponsel? Kita memotret momen bahagia, lalu dengan satu sentuhan, foto itu terkirim ke cloud. Di dalam kepala kita, ada perasaan lega. Kita merasa momen itu sudah aman, terkunci abadi di sebuah brankas digital yang tak kasat mata.
Mari kita bandingkan hal ini dengan sesuatu dari masa lalu. Ribuan tahun yang lalu, nenek moyang kita di gua-gua Sulawesi mengunyah pigmen merah dan menyemburkannya ke dinding batu untuk mencetak siluet tangan mereka. Usia lukisan itu sekarang sekitar 45.000 tahun. Masih terlihat. Masih bercerita.
Sekarang, mari kita ingat-ingat kembali. Di mana letak disket atau CD berisi foto-foto masa sekolah kita dari tahun 2005? Jika teman-teman berhasil menemukannya, apakah kita masih punya alat untuk membukanya? Dan kalaupun ada, apakah datanya masih bisa dibaca?
Di sinilah kita berdiri hari ini. Kita adalah generasi yang memproduksi informasi paling banyak sepanjang sejarah manusia. Namun, secara bersamaan, kita menyimpannya di atas material yang paling rapuh yang pernah diciptakan.
Sebenarnya, ada alasan psikologis mengapa kita begitu mudah percaya pada teknologi penyimpanan modern. Industri teknologi menggunakan istilah cloud atau "awan". Kata ini sangat jenius. "Awan" terdengar ringan, melayang di atas sana, tidak bisa disentuh oleh bencana duniawi seperti banjir atau rayap.
Namun, mari kita bicarakan fakta sainsnya. Cloud tidak berada di langit. Cloud hanyalah komputer rahasia milik orang lain. Ia berwujud rak-rak besi raksasa yang berisi ribuan hard drive di dalam gudang tanpa jendela, yang terus didinginkan oleh AC bertenaga tinggi, dan terhubung melalui kabel serat optik di dasar samudra.
Sama seperti tubuh kita, perangkat keras ini mengalami penuaan fisik. Para ilmuwan komputer mengenal sebuah fenomena mengerikan bernama bit rot atau pembusukan data. Secara mikroskopis, data kita disimpan dalam bentuk muatan magnetik kecil (angka 0 dan 1) di atas piringan metal atau flash chip. Seiring berjalannya waktu, muatan magnetik ini bisa melemah. Radiasi kosmik, suhu, dan kelembapan secara perlahan mengubah angka 1 menjadi 0.
Tanpa kita sadari, piksel di foto pernikahan kita perlahan bergeser. Dokumen penting kita kehilangan huruf. Perlahan, diam-diam, data kita membusuk.
Masalah ini memunculkan sebuah skenario sejarah yang membuat para arsiparis dan ilmuwan merinding. Teman-teman pasti tahu tragedi terbakarnya Perpustakaan Alexandria di zaman kuno, di mana ribuan gulungan papirus yang berisi ilmu pengetahuan dunia lenyap menjadi abu.
Sejarah mencatat itu sebagai kerugian peradaban yang masif. Namun, bagaimana jika saya katakan bahwa saat ini kita sedang membangun Perpustakaan Alexandria kita sendiri, dan diam-diam membakarnya setiap kali ada pembaruan perangkat lunak?
Vint Cerf, salah satu ilmuwan pencipta internet, menyebut ancaman ini sebagai Digital Dark Age (Zaman Kegelapan Digital). Bayangkan seorang arkeolog di tahun 4024 mencoba mempelajari cara hidup kita. Mereka akan menemukan piramida Mesir. Mereka akan menemukan reruntuhan candi kuno. Tetapi ketika mereka menggali peninggalan dari abad ke-21, mereka mungkin hanya menemukan lempengan plastik, silikon, dan logam yang sudah bisu.
Bahkan jika mereka berhasil menyalakan server dari zaman kita, mereka belum tentu memiliki software untuk membaca format JPEG, PDF, atau MP4. Data kita terkunci dalam bahasa pemograman mati yang sudah tidak ada lagi penerjemahnya.
Inilah paradoks terbesar zaman kita. Kita mencuitkan jutaan kata setiap menit, kita merekam miliaran jam video, namun kita pada dasarnya sedang menulis di atas air. Bandingkan dengan orang Sumeria yang menulis di atas lempeng tanah liat. Tanah liat tidak butuh update firmware. Ia tidak takut pada badai matahari atau Carrington Event—ledakan elektromagnetik dari matahari yang bisa memanggang semua sirkuit elektronik di bumi dalam hitungan jam.
Lalu, apa yang sedang dilakukan dunia sains untuk mencegah kita menjadi generasi yang hilang dari sejarah?
Jawabannya ternyata sangat mengejutkan, dan terdengar seperti fiksi ilmiah. Para ilmuwan menyadari bahwa untuk melestarikan sejarah, kita harus meniru alam. Saat ini, peneliti sedang mengembangkan DNA data storage. Ya, DNA buatan. Secara biologis, DNA adalah medium penyimpan informasi paling padat dan paling tahan lama di alam semesta. Sebagai gambaran, seluruh data di internet saat ini bisa disimpan dalam hitungan gram DNA, dan bisa bertahan selama ribuan tahun jika disimpan di tempat dingin.
Selain itu, ada juga Project Silica yang dikerjakan oleh beberapa raksasa teknologi. Mereka menggunakan laser femtodetik untuk mengukir data secara tiga dimensi ke dalam kaca kuarsa keras. Kaca ini kebal terhadap radiasi, bisa direbus, dibakar, dan tahan selama jutaan tahun. Sangat ironis, bukan? Setelah memutar jauh melalui dunia digital, solusi pamungkas kita ternyata kembali ke asal: mengukir data di atas batu dan kaca.
Pada akhirnya, pelestarian digital atau digital preservation bukanlah sekadar masalah teknis milik perusahaan teknologi raksasa. Ini adalah masalah kemanusiaan kita. Ini tentang bagaimana kita ingin diingat.
Mungkin kita belum punya akses ke penyimpanan DNA atau kaca kuarsa. Tapi mengetahui fakta ini setidaknya mengubah cara kita menghargai memori. Jika teman-teman memiliki foto yang sangat berarti—senyum orang tua, langkah pertama anak, atau sekadar momen konyol bersama sahabat—jangan biarkan mereka hidup sendirian di dalam cloud.
Pilih beberapa yang paling berharga. Cetaklah di atas kertas. Masukkan ke dalam album fisik. Simpanlah di laci meja.
Di tengah era di mana miliaran data diproduksi dan dilupakan setiap harinya, tindakan mencetak sebuah foto adalah sebuah pemberontakan kecil yang indah. Kita memastikan bahwa, apa pun yang terjadi pada server di masa depan, sepotong kecil sejarah hidup kita akan tetap ada, bisa disentuh, dan bisa diceritakan.